Selasa, 20 November 2012

warna kepribadianmu

11 Makna Warna untuk Personality Anda

REP | 14 May 2012 | 22:26 Dibaca: 12791   Komentar: 0   Nihil 1337014992216316426
Warna merupakan karunia Tuhan yang diciptakan sebagai salah satu bentuk keindahan dunia, warna tercipta dari berbagai campuran yang ada di alam, akan tetapi tidak hanya berfungsi sebagai bentuk keindahan saja, tetapi warna dikenal mampu memberikan kesan seseorang pada saat pertama kali bertemu.
Dalam dunia Psikologi barat, ilmu pengenalan tentang warna disebut dengan Colour Psychology, Dalam Wikipedia, Psikologi warna merupakan studi tentang warna sebagai penentu perilaku manusia. Bahkan warna dalam dunia Psikologi warna dikenal sebagai salah satu bentuk pengobatan penyakit psikologis, terapi ini diskenal sebagai Chromotherapi. Menurut healing.about.com terapis yang terlatih dalam terapi warna menggunakan cahaya dan warna dalam bentuk alat, visualisasi, atau komunikasi verbal untuk menyeimbangkan energi di daerah tubuh kita yang kurang Vibrance, baik itu fisik, emosional, spiritual, atau mental.
Apapun perkembanganya, warna menjadi sesuatu yang penting terutama untuk memberi kesan positif pada kita, oleh karena itu kita perlu mengetahui warna-warna berikut yang memiliki kesan berbeda untuk pemakainya.. Berikut penjelasannya warna warna tersebut serta pengaruh psikologis dari si pemakai serta kapan   saat waktu  yang   tepat   untuk memakainya. Ada empat warna utama psikologis - merah, biru, kuning dan hijau. Mereka berhubungan masing-masing untuk tubuh, pikiran, emosi dan keseimbangan penting antara ketiganya.





MERAH
13370150811721759675Positif: keberanian fisik, kekuatan, kehangatan, energi, kelangsungan hidup dasar, ‘fight or flight’, stimulasi,maskulinitas,kegembiraan
Negatif:Defiance,agresi.



Merah adalah warna yang kuat. Meskipun tidak secara teknis yang paling terlihat, ia memiliki properti untuk tampil agar lebih dekat daripada warna yang lain, oleh karena itu pengguna warna merah mampu mencuri perhatian kita pertama kali. Oleh karena itu warna merah dianggap efektif dalam mengatur lalu lintas dan dipakai sebagai lampu lalu lintas di seluruh dunia. Efeknya sangat fisik, melainkan merangsang kita dan meningkatkan denyut nadi, memberi kesan bahwa waktu berlalu lebih cepat dari itu. agresif.
Merah adalah warna yang punya banyak arti, mulai dari cinta yang menggairahkan hingga kekerasan perang. Warna ini tak cuma memengaruhi psikologi tapi juga fisik. Penelitian menunjukkan menatap warna merah bisa meningkatkan detak jantung dan membuat kita bernapas lebihcepat.

Kapan dipakai: Ini adalah warna yang dinamis dan dramatis. Bila dipakai dalam dunia profesional memiliki kesan yang sangat kuat. Tapi jangan gunakan baju merah saat wawancara kerja. “Warna ini bisa menimbulkan konflik saat negosiasi,” kata Eisman. Kenakan warna merah hanya sebagai aksen, misalnya kamisol merah yang dipadankan dengan blazer abu-abu.
BIRU
13370151901664295280Positif: Kecerdasan, komunikasi, kepercayaan, efisiensi, ketenangan, tugas, logika, kesejukan, refleksi,
sensitif dan tenang.
Negatif:
Dingin, sikap acuh tak acuh, kemasaman, kurang emosi
Biru adalah warna pikiran dan pada dasarnya menenangkan; itu mempengaruhi kita secara mental, bukan reaksi fisik kita harus merah. Biru yang kuat akan merangsang pemikiran yang jernih dan ringan, biru lembut akan menenangkan pikiran dan konsentrasi bantuan. Akibatnya adalah mental tenang dan menenangkan. Ini adalah warna komunikasi yang jelas. Benda biru tidak muncul untuk menjadi seperti dekat dengan kita sebagai yang merah. Waktu dan lagi dalam penelitian, biru adalah warna favorit dunia. Namun, dapat dianggap sebagai dingin, tanpa emosi dan tidak ramah.

“Biru memiliki arti stabil karena itu adalah warna langit,” kata Eisman. Meski langit kelabu dan akan hujan, kita tahu di atas awan-awan itu warna langit tetaplah biru.
Kapan dipakai: Biru tua lebih cocok untuk acara formal atau seragam, sementara biru muda untuk yang sifatnya non formal. “Untuk memberi kesan humor dan kreatifitas, cobalah campuran warna biru dan ungu,” kata Eisman.

KUNING
133701525149567162Positif: Optimis, kepercayaan diri, harga diri, extraversion, kekuatan emosional, keramahan, kreativitas.
Negatif: Irasionalitas, ketakutan, kerapuhan, emosional depresi, kecemasan, bunuh diri.
Panjang gelombang kuning relatif lama dan pada dasarnya merangsang. Dalam hal ini stimulus emosional, sehingga kuning adalah warna terkuat, psikologis. Warna kuning yang tepat akan mengangkat jiwa kita dan harga diri kita, itu adalah warna kepercayaan diri dan optimisme. Terlalu banyak, atau nada yang salah dalam hubungan dengan nada lain dalam skema warna, dapat menyebabkan harga diri untuk menurun, sehingga menimbulkan ketakutan dan kecemasan.

Warna kuning akan meningkatkan konsentrasi, itu sebabnya warna ini dipakai untuk kertas legal atau post it. Kuning juga merupakan warna persahabatan. Jadi Anda sudah bisa menebak jika si dia       memberi          mawar kuning saat      Valentine.
Kapan dipakai: Banyak orang yang kurang pede memakai warna ini karena takut terlihat mencolok. Padahal warna kuning hadir dalam berbagai variasi, mulai dari pastel hingga kuning cerah. Bila tak nyaman dengan busana warna ini, padankan dengan sesuatu yang Disukai,           misalnya          tas        bunga-bunga   warna  kuning.
ABU-ABU
13370153181624559563Positif: netralitas psikologis
Negatif: Kurang percaya diri, kelembaban, depresi, hibernasi, kekurangan energi.
Arti:   Serius, bisa   diandalkan     dan   stabil
Warna abu-abu adalah warna alam. Di luar sana warna abu-abu merupakan warna yang permanen,misalnya          batu      atau     karang.
Kapan dipakai: “Abu-abu adalah warna yang kuat dan praktikal,” kata Eisman. Saat wawancara kerja, pilih busana warna ini untuk menunjukkan Anda orang yang bertanggung jawab. Tapi bila warna ini dipakai dari atas hingga ke bawah Anda akan dianggap orang yang membosankan. Beri sentuhan warna lain, misalnya atasan bercorak, sepatu cantik, atau anting-anting yang manis.
HIJAU
1337015450219910546Positif: Harmony, keseimbangan, penyegaran, cinta universal, istirahat, pemulihan, jaminan, kesadaran lingkungan,keseimbangan,
keberuntungandankedamaian.
Negatif:Kebosanan,stagnasi,blandness,kelemasan
Warna Hijau yang mencolok mata sedemikian rupa tidak memerlukan penyesuaian apapun dan karena sifatnya yang menenangkan. Berada di tengah spektrum, itu adalah warna keseimbangan - konsep yang lebih penting daripada yang banyak orang sadari.Hijau melambangkan alam, kehidupan dan symbol fertilitas, para pengantin abad 15 menggunakan gaun pengantin berwarna hijau. Secara negatif, dapat menunjukkan stagnasi dan, salah digunakan, akan dipandang sebagai terlalu hambar.
Kapan dipakai: Warna hijau cocok dipakai untuk sore hari. Sedangkan hijau pastel cocok untuk siang hari.

VIOLET
13370155252112883798Positif: Spiritual kesadaran, penahanan, visi, kemewahan, keaslian, kebenaran, kualitas.
Negatif:introversi,dekadensi,penindasan,rendah
diri.
Panjang gelombang terpendek adalah ungu, sering digambarkan sebagai ungu. Dibutuhkan kesadaran ke tingkat lebih tinggi dalam pikiran, bahkan ke dalam alam nilai-nilai spiritual. Hal ini sangat introvertive dan mendorong perenungan yang mendalam, atau meditasi. Ini memiliki asosiasi dengan royalti dan biasanya mengkomunikasikan kualitas mungkin terbaik. Disarankan untuk tidak menjadikan warna terlalu berlebihan.

ORANGE
13370155881497484194Positif: Fisik kenyamanan, makanan, kehangatan, keamanan, sensualitas, gairah, kelimpahan, menyenangkan.
Negatif:
Perampasan,frustrasi,kesembronoan,ketidakdewasaan.
Karena itu adalah kombinasi merah dan kuning, oranye adalah “merangsang dan reaksi itu adalah kombinasi dari fisik dan emosional. Ini berfokus pikiran kita tentang isu-isu kenyamanan fisik - makanan, kehangatan, dll penampungan - dan sensualitas. Ini adalah ‘menyenangkan’ warna. Secara negatif, mungkin fokus pada kebalikannya - kekurangan. Hal ini sangat mungkin ketika jeruk hangat digunakan dengan hitam. Sama, terlalu banyak jeruk menunjukkan kesembronoan dan kurangnya nilai-nilai intelektual.

MERAH MUDA
1337015651601556657Positif: ketenangan fisik, memelihara, kehangatan, kewanitaan, cinta, seksualitas, simbol kelangsungan hidup manusia.
Negatif:Inhibisi,
kelemahanfisik.
Warna yang disukai banyak wanita ini menyiratkan sesuatu yang lembut dan menenangkan tapi kurang bersemangat dan membuat energy melemah. Menjadi warna merah, merah muda juga mempengaruhi kita secara fisik, tapi menenangkan, bukan merangsang. (Menariknya, merah adalah warna hanya yang memiliki nama yang sama sekali terpisah untuk tints nya tints biru, hijau, kuning, dll hanya disebut cahaya biru, cahaya hijau etc..) Pink warna kuat, secara psikologis. Ini merupakan prinsip feminin, dan merupakan symbol kelangsungan hidup manusia.
Kapan dipakai: Bila ingin memberi kesan lebih sensual, jangan gunakan warna ini, kata Eisman. Warna pink yang lembut cocok untuk acara kencan yang romantis, bukan menggairahkan.
HITAM
13370157412128887429Positif: Kecanggihan, glamor, keamanan, keselamatan emosional, efisiensi, substansi.
Negatif: Penindasan, dingin, ancaman, berat.
Hitam adalah semua warna, benar-benar diserap. Implikasi psikologis yang cukup besar. Ini menciptakan hambatan pelindung, karena menyerap semua energi yang datang ke arah Anda. Hitam pada dasarnya adalah ketiadaan cahaya, karena tidak ada dalam panjang gelombang cermin oleh karena itu bisa jadi mengancam; banyak orang yang takut terhadap gelap. Secara positif, ia berkomunikasi kejelasan mutlak, tanpa nuansa halus. Ini mengkomunikasikan keunggulan kecanggihan dan tak kenal kompromi dan bekerja sangat baik dengan putih. Hitam punya reputasi buruk. Warna ini dipakai oleh para penjahat di komik atau film. Hitam juga melambangkan duka dan murung. Tapi, hitam juga punya sisi lain, misalnya saja untuk menyatakan sesuatu yang abadi, klasik, dan secara universal dianggap sebagai warna yang melangsingkan.
Kapan dipakai: Khawatir Anda akan memakai gaun dengan warna sama dalam pesta? Tambahkan sedikit keceriaan, misalnya gunakan perona mata cerah, kalung bebatuan, cat kuku warna merah, atau stiletto warna silver. Warna hitam mudah dipadukan dengan aksesori jenis apa pun.
PUTIH
13370158001515445211Positif: Kebersihan, kesucian, kejelasan, kemurnian, kebersihan, kesederhanaan, kecanggihan, efisiensi.
Negatif: Sterility, dingin, hambatan, kemasaman, elitisme.
Sama seperti hitam adalah total penyerapan, jadi putih adalah refleksi total. Akibatnya, itu mencerminkan kekuatan penuh spektrum ke mata kita. Jadi juga menciptakan hambatan, tetapi berbeda dari hitam, dan sering strain untuk dilihat. Ini berkomunikasi, “Sentuhlah aku tidak!” Putih adalah kemurnian dan, seperti hitam, tanpa kompromi, itu bersih, higienis, dan steril. Konsep sterilitas juga bisa negatif. Secara visual, putih memberikan persepsi tinggi pada sebuah ruang. Efek negatif putih pada warna-warna hangat adalah untuk membuat mereka terlihat dan terasa berlebihan.
COKELAT
1337015881537850491Positif: Keseriusan, kehangatan, Nature, membumi, kehandalan, dukungan.
Negatif: Kurangnya humor, berat, kurangnya kecanggihan.
Brown biasanya terdiri dari merah dan kuning, dengan persentase besar hitam. Akibatnya, ia memiliki banyak keseriusan sama hitam, tapi lebih hangat dan lembut. Ini memiliki unsur sifat merah dan kuning. Brown memiliki asosiasi dengan bumi dan alam. Ini adalah warna solid, dapat diandalkan dan kebanyakan orang merasa tenang mendukung - lebih positif daripada yang warna paling populer yaitu hitam, yang cenderung bersifat menekan, daripada mendukung.
Inilah misteri dibalik makna warna, terkadang menjadi sesuatu yang ingin didapat dari sebuah kesan pertama itu sangat penting bukan? Oleh karena itu dengan warna kita diharapkan dapat memanfaatkan efek positif & negatif dari penggunaanya.


Blog Entri
Oct 18, '07 10:54 AM
untuk semuanya
http://images.dwpkbrikl.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/Rxd0QAoKCpEAADgk-Rk1/cleopatra.jpg?et=lb1EJBcicvzXl4VAxvGRmw
Dibawah ini ringkasan dari Novel setebal 111 halaman. Kalau berminat baca Buku-buku lainnya dari Habiburrahman El Shirazi (Kang Abik) :
Di Atas Sajadah Cinta
Ayat-ayat Cinta ( baca
disini )
Ketika Cinta Bertasbih
Ketika Cinta Berbuah Surga
Nyanyian Cinta
Ketika Derita Mengabadikan Cinta
Pudarnya Pesona Cleopatra
Karya : Habiburrahman El Shirazy
(Lihat Novelnya di Attachment File dibawah. Red)

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu. “Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku. Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis  Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya! Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku. Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe”   Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. “Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal AlQuran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra. Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang”   Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “¦terima kasih dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu bahagia. Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini. Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
“Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan ibundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik   dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. “Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya. Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis. Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!”  Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku. Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”. Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang  membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir. Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh. Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir.   Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang Mesir.
Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. “Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. ” Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat.
Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali Yasmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah.
Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengann temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”. Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi.  Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut   kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat  itu satu persatu. Dan Rabbi ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku. “Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana. Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”. Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi. ” Raihana istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”. ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.  Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”.
Hatiku bergetar hebat. ” Kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “ Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu   ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami”. Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira. Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua.


http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/163138_1509732468252_1382571044_1163856_2610683_a.jpg
1. Afrikaans – Ek is lief vir jou

2. Albanian – te dua

3. Alentejano (Portugal) – Gosto De Ti, Porra!

4. Alsacien (Elsass) – Ich hoan dich gear

5. Amharic (Aethio.) – Afekrishalehou

6. Arabic – Ana Ahebak / Ana Bahibak

7. Armenian – yes kez shat em siroom

8. Assamese – Moi tomak bhal pau

9. Assyr – Az tha hijthmekem

10. Bahasa Malayu (Malaysia) – Saya cinta mu

11. Bambara – M’bi fe

12. Bangla – Ami tomakay bala basi

13. Bangladeschi – Ami tomake walobashi

14. Basque – Nere maitea

15. —————————

16. Bavarian – tuI mog di

17. Belarusian – Ya tabe kahayu

18. Bengali – Ami tomake bhalobashi

19. Berber – Lakh tirikh

20. Bicol – Namumutan ta ka

21. Bisaya – Nahigugma ako kanimo

22. Bolivian Quechua – Qanta munani

23. Bosnian – Ja te volim (formally) or volim-te Turkish seni seviyorum

24. Bulgarian – As te obicham

25. Bulgarian – Obicham te

26. Burmese – chit pa de

27. Cambodian (to the female) – bon saleng oun

28. Cambodian (to the male) – oun saleng bon

29. Canadian French – Je t’adore (”I love you”)

30. Canadian French – Je t’aime (”I like you”)

31. Catalan – T’estim (mallorcan)

32. Cebuano – Gihigugma ko ikaw

33. Chamoru (or Chamorro) – Hu guaiya hao

34. Cherokee – Tsi ge yu i

35. Cheyenne – Ne mohotatse

36. Chichewa – Ndimakukonda

37. Chickasaw – Chiholloli (first ‘i’ nasalized)

38. Chinese – Ngo oi ney a (Cantonese)

39. Chinese – Wuo ai nee (Mandarin) — wo ai ni (updated by mei*mei )

40. Corsican – Ti tengu cara (to female)

41. Corsican – Ti tengu caru (to male)

42. Creol – Mi aime jou

43. Croatian – Volim te (used in common speech)

44. Czech – Miluji Te

45. Danish – Jeg elsker dig

46. Dutch – Ik hou van jou

47. Dutch – Jeg elsker dig

48. Ecuador Quechua – Canda munani

49. English – I love thee (used only in Christian context)

50. English – I love you

51. Eskimo – Nagligivaget

52. Esperanto – Mi amas vim

53. Estonian – Ma armastan sind / Mina armastan sind (formal)

54. Ethiopia – afekereshe alhu

55. Faroese – Eg elski teg

56. Farsi – Tora dost daram

57. Filipino – Mahal ka ta — mahal ki ta (updated by mei*mei)

58. Finnish (Minä) rakastan sinua

59. Flemish (Ghent) – ‘k’ou van ui

60. French (formal) – Je vous aime — French (non-formal) = Je t’aime (updated by rhazchan)

61. Friesian – Ik hald fan dei

62. Gaelic – Tá mé i ngrá leat

63. Galician – Querote (or) Amote

64. Georgian – Miquar shen

65. German – Ich liebe Dich

66. Ghanaian – Me dor wo

67. Greek – agapo se

68. Greek – S’agapo

69. Greenlandic – Asavakit

70. Gronings – Ik hol van die

71. Gujarati – oo tane prem karu chu

72. Hausa – Ina sonki

73. Hawaiian – Aloha au ia`oe

74. Hebrew – Ani ohevet ota

75. Hiligaynon – Guina higugma ko ikaw

76. Hindi – Main tumsey pyaar karta hoon / Maine Pyar Kiya

77. Hmong – Kuv hlub koj

78. Hokkien – Wa ai lu

79. Hopi – Nu’ umi unangwa’ta

80. Hungarian – Szeretlek te’ged

81. Icelandic – Eg elska thig

82. Ilocano – Ay ayating ka

83. Indi – Mai Tujhe Pyaar Kartha Ho

84. Indonesian – Saya cinta padamu (’Saya’ –> ‘Aku’

85. Inuit – Negligevapse

86. Iranian – Mahn doostaht doh-rahm

87. Irish – taim i’ ngra leat

88. Italian – Ti amo/Ti voglio bene

89. Japanese – Anata wa, dai suki desu / watashiwa, anata aishiteimasu (updated by alex_hoshi)

90. Javanese (formal) – Kulo tresno marang panjenengan

91. Javanese (informal) – aku tresno kowe (updated by alex_hoshi

92. Kannada – Naanu ninna preetisuttene

93. Kapampangan – Kaluguran daka

94. Kenya (Kalenjin) – Achamin

95. Kenya (Kiswahili) – Ninakupenda

96. Kikongo – Mono ke zola nge (mono ke’ zola nge’)

97. Kiswahili – Nakupenda

98. Konkani – Tu magel moga cho

99. Korean – SA LANG HAE / Na No Sa Lan Hei

100. Kurdish – Khoshtm Auyt

101. Laos – Chanrackkun

102. Latin – Te amo

103. Latvian – Es mîlu Tevi

104. Lebanese – Bahibak

105. Lingala – Nalingi yo

106. Lithuanian – As Myliu Tave

107. Lojban – mi do prami

108. Luo – Aheri

109. Luxembourgeois – Ech hun dech gäer

110. Macedonian – Jas Te Sakam

111. Madrid – lingo Me molas, tronca

112. Malaysia – Saya cintamu / Saya sayangmu / Aku sayang enkow / Sayah Chantikan Awah

113. Malayalam – Njyaan Ninne’ Preetikyunnu

114. Mohawk- Konoronhkwa

115. Navaho – Ayor anosh’ni

116. Norwegian – Eg elskar deg (Nynorsk)

117. Osetian – Aez dae warzyn

118. Persian – Tora dost daram

119. Polish Kocham – Cie / Ja cie kocham

120. Portuguese – Amo-te / Eu te amo

121. Romanian – Te iu besc

122. Russian – Ya vas liubliu / ya liubliu tebia / ya tebia liubliu / Ya polyubeel tebya.

123. Scot – Gaelic Tha gra\dh agam ort

124. Serbian – LUBim te.

125. Serbocroatian – volim te

126. Shona – Ndinokuda

127. Sinhalese – Mama oyata adarei

128. Sioux – Techihhila

129. Slovak – lubim ta

130. Slovene – ljubim te

131. Spanish – Te quiero / Te amo

132. Srilankan Mama Oyata Arderyi

133. Swahili – Naku penda (followed by the person’s name)

134. Swedish – Jag a”lskar dig

135. Swiss-German Ch’ha di ga”rn

136. Syrian – Lebanes BHEBBEK (to a female) / Lebanes BHEBBAK (to a male)

138. Tagalog – Mahal kita

139. Tamil – n^An unnaik kAthalikkinREn (I love you)

140. Telugu – Neenu ninnu pra’mistu’nnanu

141. Thai – Ch’an Rak Khun / Phom Rak Khun

142. Tunisian – Ha eh bak *

143. Turkish – Seni seviyo*rum (o* means o)

144. Ukrainian – ja tebe koKHAju (real true love)

145. Vietnamese – Em ye^u anh (woman to man) / Anh ye^u em (man to woman)

146. Welsh – ‘Rwy’n dy garu di.

147. Yiddish Ich libe dich

148. Yugoslavian – Ya te volim

149. Zazi – Ezhele hezdege (sp?)

150. Zuni – Tom ho’ ichema

151. Zulu – Ngiyakuthanda!





Dalam bahasa daerah :





1. Aceh – loen galak gata

2. Bangka – ku nek kek ka

3. Banjarmasin – unda katuju’ lawan ikam

4. Batak Karo – ngena ateku kam

5. Batak Toba – holong rohakku tu ho (updated by babiho)

6. Bugis – u puji’ki an’dri

7. Dayak (kenyah) – ake uba iko

8. Jakarta – abang demen ame eneng

9. Jawa – Aku tresno karo kowe – kulo tresno karo kowe – Kulo tresna Panjenengan (halus) (updated by bankaixxx)

10. Manado – kita suka pangana

11. Padang – ambo senang siko — Aden suko jo kau (updated by lolce)

12. Palembang – aku cinto bedebek samo kau

13. Sunda – abdi bogoh ka anjeun

14. Suroboyo – aku cinta kön, c*k!!!

15. Betawi – gue cinte ama elu

Rabu, 07 November 2012

untuk seseorang yang tidak memiliki rasa malu pada dirinya

Kedewasaanmu`akan  menunjukkan karaktermu
tapi karaktermu tidak menunjukkan kedewasaanmu
itulah pemikiran orang-orang kerdil
percuma pintar,kaya,cerdas, memiliki jabatan, dan bijak
tapi itu semua akan menjadi abu, dipenuhi rasa marah, ambisius, dan keposesifan anda
hargai diri anda sebagai wanita sesungguhnya menghancurkan atau menganggu kebahagiaan orang lain. maka anda ibarat hewan yang memakan bangkai saudaranya sendiri ( H.R. Bukhari)

Jumat, 12 Oktober 2012

harapan

masih adakah cahaya dalam langkah tak berhujung
sembari dengkuran hati dalam cahaya tak berpadu jua
aku lelap dalam bayang-bayang semu mengkelam
menitip hati pada burung cemara yang menutuk hati 
aku hanyalah lembayu mengharapkan keseimbangan dan keselarasan
mengharapkan angan bukan  buah berpedih yang mencekoki jiwa
ingin kutarik jelujur ragamu dalam pelupuk buih tak berisi
datang menjelma menjadi embun penyejuk dalam gelagak para pengejar cinta sejati